Nah, sekarang apa yang bisa diharapkan Tano Batak dari putra-putrinya yang tersebar di Nusantara ini? Bagaimana mereka ini memandang dan memperlakukan bonapasogit?
Kita harus realistis. Orang-orang rantau yang merasakan hidup di kampung, dulu ikut bekerja keras dan hidup pahit bersama orangtua, umumnya masih ada rasa keterikatan dengan kampung, terutama kalau orangtua masih hidup. Sesekali mereka pulang untuk pesta, atau membawa anak-anaknya liburan.
Baca Juga:
100 Tahun Sitor Situmorang: Napak Tilas Sang Penyair Melalui Panggung Opera Batak
Itu yang saya sebut di bagian awal tulisan ini. Kecintaan orang Batak pada kampungnya lebih personal, pada orangtua, pada keluarganya.
Ya, mungkin kangen kampungnya, kangen lagu-lagu, makanan, dan sebagainya. Tapi tidak mencintai total, karena sadar kehidupannya sudah ada di tempat lain. Dia dan anak-anaknya tak mungkin Kembali.
Berbeda, misalnya, dengan orang-orang dari banyak daerah di Gunung Kidul, Kulon Progo, atau Bantul, yang dulu termasuk miskin karena sering kekeringan, yang contoh kemiskinannya saya ceritakan di awal cerita ini.
Baca Juga:
Mengapa Suku Batak Menjadi Pencetak Sarjana Terbanyak?
Kemiskinan membuat orang-orang dari daerah ini juga pergi ke kota, jadi tukang bakso, tukang jamu, jadi pembantu, atau pekerjaan lain, bahkan jadi TKI di luar negeri.
Sering malah orangtua yang merantau, bapak jadi tukang bakso, atau ibu jadi bakul jamu, tapi anak-anak tinggal/sekolah di kampung.
Tiap bulan mereka mengirim uang ke kampung. Kantor-kantor bank-bank di daerah itu pasti tahu besar jumlah besar uang yang mengalir tiap bulan dari kota dan dari luar negeri ke daerah itu.